Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

Aku Termotivasi Karena Cinta

Jatuh cinta dan memiliki seorang pacar memang menyenangkan dan bisa membuat hidup kita lebih indah dan tentunya lebih bersemangat lagi untuk menjalani hari demi hari demi. Tapi tidak semua kisah cinta itu berjalan mulus, selalu ada saja yang menghalangi atau bahkan membuat kisah cinta kita jadi lebih sulit untuk dijalani.
Dan mungkin yang paling sering terjadi adalah ketika orang tua tidak setuju atas hubungan cinta kita? Orang tua kita tidak mau menerima pilihan hati kita dan membenci orang yang jadi pacar kita.
Bila anda pernah mengalami seperti hal seperti ini, dimana hubungan cinta kita tidak mendapat restu dari orang tua, jangan kecil hati dulu dan jangan terburu-buru mengambil langkah yang bisa jadi, justru akan merugikan kehidupan kita.
Ketika orang tua tidak merestui hubungan kita, ada baiknya anda melakukan lagi cek dan rechek atas permasalahan yang sedang dihadapi, dan anda harus siap melihat dan menerima sisi baik maupun sisi buruk dari masalah ini.

 Cek Motivasi Hubungan Cinta ini
Yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui dulu motivasi apa yang menyebabkan kita memilih dia menjadi pacar kita? Apa tujuan dari hubungan yang kita jalin. Apakah tujuan kita memilih dia itu hanya untuk sekedar gila-gilaan, biar lebih dipandang sebagai ce/co gaul, atau mungkin ada motivasi lain yang lebih tinggi, misal karena kita menginginkan dia jadi istri/suami kita? Dengan mengetahui motivasi sebenarnya dari sebuah hubungan, kita bakal lebih mengetahui apakah kita emang  benar-benar cinta sama dia? atau justru cinta yang kita rasakan ini cuma sekedar perasaan kagum sesaat saja? Atau malah yang parah lagi bila kita memilih dia, cuma ingin teman-teman kita memandang kita hebat karena bisa mendapatkan dia, yang notabene ce/co idaman?
Nah, bila kita telah mengetahui apa sebenarnya motivasi dari hubungan cinta kita, dijamin kita bakal lebih mudah untuk menghadapi ketidaksetujuan dari orang tua kita.

 Apakah ini Benar-Benar Cinta?
Sekali lagi, tanya pada diri kita sendiri, apakah yang kita rasakan ini adalah benar-benar cinta? Apakah emang kita benar-benar sayang sama dia? Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan selalu memandang semua hal itu mungkin dan bisa dilakukan. Dengan kekuatan cinta, kita bisa lebih bersemangat, apa yang tadinya terasa tidak mungkin menjadi mungkin.
Tapi ketika tiba-tiba orang tua tidak setuju dengan hubungan kita, maka akan dengan mudahnya kita menyalahkan mereka, dan menganggap mereka tidak mengerti dengan perasaan yang kita alami.

 Apa Motivasi dari ketidaksetujuan Orang Tua
Langkah berikutnya adalah mengetahui apa motivasi dibalik ketidaksetujuan orang tua atas  hubungan cinta kita. Cari tahu latar belakang dari kehidupan orang tua kita dan kemudian kita bandingkan dengan latar belakang dari pacar kita, karena biasanya perbedaan latar belakang seringkali menjadi penyebab utama dari ketidaksetujuan orang tua. Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan orang tua tidak merestui hubungan kita, dan itu semua harus kita cari tahu apa motivasi dari alasan-alasan tersebut.

 Jika Orang Tua Kita Ternyata Salah
Orang tua juga manusia, tidak selamanya mereka selalu benar. Bila ternyata ketidaksetujuan mereka lebih dilatar belakangi karena masalah racis (perbedaan suku, warna kulit dst), kelas sosial, atau bahkan perbedaan pekerjaan (misal dia kurang mapan dibandingkan dengan kita). Bila itu semua yang menjadi alasan, maka sudah selayaknya kita berjuang mempertahankan hubungan cinta kita dan tidak begitu saja menyerah dan setuju dengan ketidaksetujuan orang tua kita.
Orang tua mungkin merasa khawatir bila ternyata hubungan cinta kita justru akan membuat kita sengsara, atau membuat kita dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Dan terkadang orang tua mempergunakan “aturan” atau “tata sosial” zaman dulu, yang terkadang kurang relevan dengan keadaan zaman sekarang.
Bila ternyata semua ini yang menjadi penyebab ketidaksetujuan orang tua kita, maka sudah sewajarnya kita bisa memberikan argumen yang tepat pada mereka untuk mempertahankan hubungan cinta kita. Bagaimanapun ketidaksetujuan yang disebabkan karena masalah rasis, kelas sosial sangat tidak bisa dibenarkan, meskipun itu semua datang dari orang tua kita sendiri.

 Jika Orang Tua Kita Ternyata Benar
Tidak ada yang lebih mengenal kita, selain orang tua kita. Bahkan orang tua lebih tahu dan mengerti pada diri kita dibandingkan kita sendiri. Dan mungkin saja, karena kita sedang dibutakan oleh yang namanya cinta, hingga apa yang dilihat sebagai sisi buruk oleh orang tua kita justru kita tidak bisa menyadarinya. Yang kita lihat hanya sisi baik dan pandangan bahwa cinta itu selalu indah.
Kita harus ingat, orang tua sangat menyayangi kita dan mereka menginginkan supaya kita bisa bahagia dalam hidup ini. Jadi ketika mereka melihat sesuatu yang tidak beres dan merugikan, dalam hubungan cinta kita, tentu saja mereka bakal dengan tegas menolak dan tidak merestui hubungan kita.
Jika orang kita ternyata pernah mendengar bahkan tahu bahwa pacar kita tersebut punya perilaku yang buruk, dan mereka mengkhawatirkan kita bakal dilukai oleh pacar kita, tentu ada baiknya bila kita mencoba mendengarkan mereka, karena mungkin saja mereka ada benarnya.
Jika kita mulai berlaku liar, dan hidup kita mulai kacau, (misal kita mulai mempergunakan obat-obatan terlarang, minuman keras) karena pengaruh pacar kita, orang tua sudah pasti sangat tidak setuju dengan hubungan kita. Dan orang tua juga bakal tidak merestui, bila ternyata selama menjalin hubungan cinta, prestasi kuliah kita mulai menurun, atau kita mulai kehilangan sahabat dan teman kita. Sudah waktunya kita mendengarkan orang tua dan menghentikan hubungan cinta kita. Bagaimanapun, sebuah hubungan cinta yang terlalu banyak mengorbankan dan merugikan kehidupan pribadi kita, sudah merupakan sesuatu yang tidak menyehatkan bagi kelangsungan hidup kita.

 Menemukan Jalan Keluar
Seperti dikatakan di awal tadi, cinta itu indah dan bisa membuat hidup lebih bersemangat dan lebih baik. Bila ternyata cinta yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar membuat hidup kita lebih baik, lebih nyaman, dan pacar kita benar-benar sayang sama kita dan memberikan efek positif pada kehidupan kita, sudah sewajarnya kita mempertahankan hubungan cinta ini, meskipun orang tua tidak setuju.
Tapi ketika hubungan cinta dirasakan mulai “membahayakan” kehidupan pribadi kita, ada baiknya kita berpikir ulang, apakah perlu kita mempertahankan cinta ini? Perlu diingat baik-baik, kita tidak harus kehilangan hidup kita hanya karena kita jatuh cinta dan membina sebuah hubungan. Keluarga, teman dan kuliah atau sekolah kita, masih sangat penting bagi kehidupan kita. Membina sebuah hubungan cinta, tidak berarti bahwa kita mesti kehilangan itu semua. Bila kita mulai merasakan bahwa kita mulai kehilangan hidup kita, sudah waktunya kita berpikir untuk mengakhiri hubungan cinta ini.

Orang tua selalu mengharapkan yang terbaik buat kita, hadapilah ketidaksetujuan orang tua dengan kepala dingin dan sikap yang kooperatif. Boleh jadi mereka tidak suka dengan pacar kita, tapi suatu hari nanti mereka pasti akan bisa menerima hubungan cinta kita, bila kita mampu membuktikan bahwa apa yang kita lakukan bisa  membuat kehidupan kita lebih baik dan lebih indah untuk dijalani.

Selamat Jatuh Cinta! **hub@hub@ ^_^

Cinta Sejati kah ini...

Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberikanku sebuah pengajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan seperti dalam novel-novel romantis, tetapi tetap bagiku ia adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari semua novela tersebut.
Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu di sebuah majlis resepsi pernikahan dan kata ayahku dia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu dia tahu, inilah wanita yang akan dikahwininya. Ia menjadi kenyataan dan mereka telah bernikah selama 40 tahun dengan tiga orang anak. Aku anak sulung, telah berkahwin dan memberikan mereka dua orang cucu. Ibu bapaku hidup bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi ibu bapa yang sangat baik bagi kami, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan.
Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Beberapa jiran kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan pasaraya yang menjual alat-alat keperluan rumah tangga. Mereka mengatakan hari pembukaan adalah waktu terbaik untuk berbelanja barang keperluan kerana barang sangat murah dengan kualiti yang berpatutan.
Tapi ibuku menolaknya kerana ayahku sebentar lagi akan pulang dari kerja. Kata ibuku,”Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian”.
Perkara itu yang selalu ditegaskan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita, aku wajib bersikap baik terhadap suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sihat mahupun sakit. Seorang wanita harus menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu. Menurut mereka, itu hanyalah lafaz janji pernikahan, omongan kosong belaka. Tapi aku tetap mempercayai nasihat ibuku.
Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami sekeluarga mengalami berita duka. Setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Doktor mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di pembaringan.
Ayahku, seorang lelaki yang masih sihat di usia tuanya. Tetapi dia tetap setia merawat ibuku, menyuapinya, bercerita segala hal dan membisikkan kata-kata cinta pada ibu. Ayahku tak pernah meninggalkannya. Selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya. Ayahku pernah mengilatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”Untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan hodoh sekali”.
Ayahku menjawab, “Aku ingin kau tetap merasa cantik”.
Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?”
Aku menggeleng, dan ibuku berkata, “Kerana aku tak pernah meninggalkannya…”
Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan Ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

**hub@hub@ by Omen ^_^

Jumat, 06 Mei 2011

"Lupus" Sahabatku yang Nakal

Ibarat orang berpacaran, mengenal pasangan memang harus luar-dalam. Siapa dia, mengapa dia mendekati kita, dan bagaimana kepribadiannya? Tentu saja, ini butuh waktu yang cukup lama.
Demikian halnya dengan lupus. Ketika anda harus jalan berdampingan dengannya maka Anda pun harus tahu, apa dan bagaimana pasangan bernama lupus ini. Siapa pun tentunya tak ingin menjalani hidup di dunia ini dengan kesakitan, apalagi harus “bersahabat”, “berpacaran”, dan akhirnya “menikah” dengan penyakit hingga maut menjemput. Namun, jika penyakit itu akhirnya menjadi bagian dari hidup dan enggan pergi, mau tidak mau Anda harus berdamai dengannya. Jangan mencoba menolaknya dengan cara yang tidak dikehendaki. Sentuhlah dia dengan cinta. Coba mengertilah dia agar dia tidak berang. Jika tidak, mengamuklah dia dalam tubuh dan Anda sendiri yang akan sangat dirugikan.
Bagaimana kalau lupus “marah”? sangat menakutkan! Dengan mudah lupus akan menyerang organ tubuh. Seenaknya dia bergerilya dalam tubuh, tanpa Anda kehendaki. Amukannya yang begitu dahsyat nyaris tak mampu dilawan. Sangat menderita!
Namun, jangan takut, Anda juga bisa meredam kemarahan lupus, bahkan berdamai dengannya. Mau tahu caranya? Ternyata gampang, jalani pola hidup sehat, berfikir positif, dan tertip dengan segala aturan pengobatan yang sedang dijalani. Mudah bukan? Harus ada saling pengertian antara si pasien dengan lupus. Jangan membuat dia ngambek apalagi “marah” karena inilah yang kelak akan membuat Anda kerepotan. 
Anda bisa terkapar tidak berdaya, mengalami hari-hari tidak menyenangkan karena mengalami kesakitan! Namun, untuk mencapai sikap saling pengertian ini memang tidak mudah. Terasa berat! Sekali lagi, Anda harus mengingatkan diri, sesungguhnya di dalam kesulitanselalu ada kemudahan. Untuk mencapai jalan kemudahan, kuncinya ada pada diri sendiri.
Sekarang, kenali si lupus dan pelajari apa keinginanya dan bagaimana manaklukkannya? Niscaya kelak, anda pasti mampu berdamai dengan lupus. Amin.
**hub@hub@ ^_^

Menulis itu Asoy ,,!

Kalau mau menulis, segera bersihkan pikiran-pikiran yang selama ini mengotori pikiran, karena selama ini banyak pelajaran yang justru membuat orang sulit menulis. ‘’Kalau mau menulis, harus segera bersihkan ‘’berhala-berhala’’ yang selama ini menghantui pikiran Anda,’’ kata Ersis Warmansyah Abbas dalam dialog di kantor Malang Post kemarin.  ‘’Saya datang ke sini untuk mencuci otak Anda, bahwa selama ini banyak teori, tapi tidak ada action menulis.’’
Pria asal Banjarbaru yang akrab dipanggil EWA itu mengatakan, selama ini para guru sering memberikan ajaran yang membuat para siswanya justru takut menulis. Banyak teori yang disampaikan para guru maupun para dosen yang justru membuat anak didik kesulitan, karena banyak teori yang memberatkan. Lebih parah lagi, para guru dan dosennya belum pernah menulis sama sekali. Seorang dosen mengoreksi puisi yang dibuat mahasiswanya dengan berbagai teori. ‘’Padahal dosennya sendiri tidak pernah menulis puisi, bagaimana dia bisa mengoreksi tulisan orang lain,’’ terangnya
.
 EWA juga melontarkan kritik terhadap terhadap aktivitas pelatihan menulis yang dianggapnya hanya berisi ceramah. Makanya, kalau ada pelatihan penulisan pematerinya harus ditanya, sudah pernah menulis atau belum. Bagaimana pemateri bisa mengajarkan menulis kalau dia sendiri tidak pernah menulis.’’
Dia memberi motivasi kepada peserta, bahwa menulis adalah urusan penulis sendiri, tidak usah peduli dengan orang lain. Bersihkan diri dari belenggu yang menganggap menulis itu sulit. Seorang penulis, kata dia, adalah seorang pemberani yang berani menampilkan kemampuannya sendiri tanpa dipengaruhi orang lain. ‘’Menulis hanya bisa dilakukan oleh orang yang berani dan bertanggung jawab. Apa yang ditulis ada buktinya. Kalau dia tidak berani, akan sulit karena takut ketahuan salahnya,’’ tambahnya.

Motivasi lain yang disampaikan Ersis adalah bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan sehingga timbul keyakinan bisa menulis. Tidak perlu berfikir apakah tulisannya salah atau tidak  yang penting ditulis dulu baru akan ketahuan yang mana yang salah. Jangan malu tulisannnya salah dan jangan malu tulisannya jelek.
Dia tidak menampik kalau ada calon penulis yang berangan-angan menjadi penulis hebat, tapi semuanya itu bisa dicapai setelah melalui proses, tidak mungkin bisa jadi bagus seketika. 

‘’Ada yang berangan-angan ingin menjadi Dahlan Iskan, tulisannya bagus dan enak dibaca. Ya, tidak bisa, wong Anda baru akan menulis, sedangkan Dahlan Iskan sudah bertahun-tahun menulis,’’ terang pria yang sudah menulis puluhan buku itu. hehehheh,,,, hub@hub@ ^_^