Kamis, 19 Mei 2011

Lupus Seganas HIV AIDS Tapi Tidak Menular


LUPUS/ SLE (SYSTEMICLUPUSERYTHEMATOSUS)
Dr. C. Singgih Wahono,SpPD, DR.Dr. Kusworini Handono, MSc
Prof. DR.Dr. Handono Kalim,SpPD-KR.


APA ITU LUPUS?
Lupus adalah penyakit yang terjadi karena kelainan dalam daya tahan tubuh (sistem imun). Sistem imun normal akan melindungi kita dari serangan penyakit yang diakibatkan kuman, virus, dan lain-lain dari luar tubuh kita, tetapi pada lupus, sistem imun menyerang tubuh kita sendiri ( oleh karena itu disebut penyakit autoimun). Penyakit ini akan menyebabkan keradangan di berbagai organ tubuh kita, misalnya: kulit, sendi, paru, ginjal, otak, darah, dan lain-lain.

SIAPA SAJA YANG BISA TERKENA LUPUS?
Lupus bisa mengenai baik pria maupun waita, tua maupun muda, namun terutama mengenai wanita usia subur. Perbandingan antara wanita dan pria yang terkena Lupus adalah sekitar 9 : 1 atau lebih.

APAKAH LUPUS MENULAR?
Lupus sama sekali BUKAN penyakit menular. Jadi berada di dekat pasien lupus, tinggal serumah, atau bersentuhan, TIDAK akan menyebabkan penularan.

APA PENYEBAB LUPUS? APAKAH BISA MENURUN?
Sampai sekarang belum diketahui tentang sebab pasti dari Lupus. Tetapi telah diketahui bahwa kombinasi dari berbagai faktor yaitu: faktor lingkungan (misalnya sinar ultraviolet dan infeksi), faktor hormonal dan faktor keturunan berperan untuk terjadinya penyakit ini. Lupus tidak diturunkan secara langsung seperti misalnya warna kulit atau lurus tidaknya rambut. Sebagian besar penderita Lupus tidak mempunyai orang tua atau anak Lupus. Jadi, faktor keturunan saja TIDAK akan menyebabkan seseorang terkena Lupus.
Sistem imun kita membentuk protein di dalam darah yang disebut antibody. Dalam keadaan normal antibodi ini menyerang kuman-kuman sehingga kita terhindar dari infeksi. Pada lupus, antibodi ini justru menyerang organ-organ tubuh kita dan menyebabkan keradangan dan kerusakan organ, sehingga dinamakan autoantibodi. Pemeriksaan autoantibodi dalam darah bisa untuk membantu diagnosis Lupus.


APA GEJALA-GEJALA LUPUS?
Lupus mempunyai manifestasi di seluruh tubuh, yaitu: Biasanya terjadi keluhan cepat lelah, demam berulang, sariawan (luka di mulut) berulang, anemia (kurang darah merah). Pada kulit wajah bisa terjadi ruam seperti kupu-kupu di pipi (ruam malar), sedangkan kulit di bagian tubuh lain bisa terjadi ruam berbentuk bundar (ruam discoid).
Bisa juga terjadi fotosensitivitas yaitu jika kena cahaya matahari atau ultra violet, kulit akan memerah dan terasa tidak enak. Rambut juga bisa terjadi kerontokan. Bisa terjadi nyeri, bengkak pada sendi (radang sendi), terutama pada sendi kecil. Enam puluh persen Lupus mengalami keradangan ginjal yang ditandai dengan adanya protein di dalam air seni, yang bisa dites di laboratorium.

BAGAIMANA DOKTER MENDIAGNOSIS LUPUS?
Dokter mendiagnosis lupus berdasarkan atas keluhan-keluhan yang anda ceritakan kepada dokter, hasil pemeriksaan   dokter   terhadap   badan   anda,   serta   dilengkapi   dengan   pemeriksaan   laboratorium. Pemeriksaan laboratorium ini sangat penting untuk membedakan lupus dengan penyakit lain, karena banyak gejala lupus yang mirip dengan penyakit lain.
Contoh pemeriksaan laboratorium tersebut antara lain adalah: urin lengkap, darah lengkap (kadar hemoglobin, jumlah sel darah putih, jumlah trombosit, laju endap darah [LED]), tes fungsi ginjal dan hati, ANA test, antidsDNA, dan sebagainya.
Terdapat kriteria diagnosa Lupus, yang disusun oleh pakar dari American College of Rheumatology. Yang terbaru adalah versi tahun 1997.
Ada 11 item kriteria, dan untuk mendiagnosa Lupus, minimal ditemukan 4 kriteria yang positif. Apa saja kriterianya:
1.      Ruam malar/ ruam kupu-kupu (malar rash / butterfly rash). Kulit pada kedua pipi dan batang hidung menjadi berwarna kemerahan, kalau menyembuh akan berwarna gelap. Jika dilihat, bentuknya seperti kupu-kupu. Ruam ini menjadi signature sign dari Lupus, meskipun tidak selalu terdapat pada semua penyandang Lupus.
2.      Ruam diskoid. Ruam ini berbentuk bundar, kemerahan, kalau menyembuh akan berwarna kehitaman.
3.      Luka pada mulut (oral ulcer). Luka kecil-kecil seperti sariawan, yang berulang di mulut, kadang juga di lidah.
4.      Fotosensitivitas. Foto = sinar / cahaya. Jadi maksudnya peka terhadap cahaya matahari, atau lebih spesifik lagi sinar ultra violet. Kalau terkena sinar, maka kulit penyandang Lupus akan menjadi kemerahan, dan bahkan gejala Lupusnya bisa kambuh atau memberat.
5.      Radang sendi (arthritis). Sendi-sendi akan terasa nyeri, bahkan kemerahan dan kadang juga bengkak.
6.      Gangguan ginjal. Gangguan ginjal disini bukan batu ginjal atau infeksi ginjal, melainkan keradangan ginjal. Lebih tepatnya lagi keradangan pada filter ginjal (glomerulus). Gangguan ini mudah diperiksa dengan pemeriksaan urin lengkap pada saat tidak mens. Disini akan didapatkan protein dan sel darah merah pada urin yang normalnya tidak ada, atau kalau ada, dalam jumlah yang sangat sedikit.
7.      Radang pada selaput serosa. Selaput serosa adalah selaput yang membungkus beberapa organ tertentu dari tubuh kita. Yang paling sering adalah radang selaput pembungkus jantung (pericarditis, pericard = selaput pembungkus jantung, itis = radang), radang selaput paru (pleuritis). Keadaan ini dapat langsung ditemukan oleh dokter saat pemeriksaan, tetapi kadang perlu konfirmasi dengan foto ronsen dan echo cardiography (semacam USG khusus untuk memeriksa jantung).
8.      Gangguan pada sistem syaraf. Dapat terjadi penurunan kesadaran bahkan sampai koma. Kejang-kejang yang kadang dikira ayan (epilepsi). Bahkan bisa terjadi gangguan ingatan. Nyeri kepala (nyeri yang bukan pusing, pusing = rasa berputar) tidak termasuk salah satu kriteria ini.
9.      Gangguan pada sistem darah. Gangguan ini bisa pada sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) atau trombosit (keping-keping darah yang berfungsi untuk pembekuan darah). Anemia hemolitik adalah hancurnya sel-sel darah merah sebelum waktunya (sel darah merah yang normal akan dihancurkan setelah 120 hari) dikarenakan faktor autoimun. Lekosit jumlahnya akan menurun, trombosit juga akan menurun.
10.  Pemeriksaan imunologi yang positif. Maksudnya di sini adalah pemeriksaan autoantibodi khusus. Yang paling sering diperiksa adalah antidsDNA. Bila anti dsDNA negatif, biasanya akan diperiksa antiSm.
11.  ANA test positif. Ketentuannya: Lupus dapat didiagnosa jika minimal 4 dari 11 kriteria diatas, positif. Lha kalau cuma satu, dua atau tiga yang positif bagaimana? Mungkin bukan Lupus, atau mungkin awal dari Lupus. Sehingga pada keadaan ini, seseorang sebaiknya selalu kontrol untuk melihat perkembangan penyakitnya.

BAGAIMANAKAH CARA PENGOBATAN LUPUS?
Lupus belum bisa disembuhkan secara total, tetapi bisa dikontrol, sehingga penyandang lupus tidak merasakan gejala penyakitnya. Penatalaksanaan (penanganan) Lupus terdiri dari penatalaksanaan tanpa obat-obatan serta penatalaksanaan yang dengan obat. Penatalaksanaan yang tanpa obat:
1.      Istirahat fisik yang cukup.
2.      Olahraga ringan disaat keadaan tubuh fit.
3.      Istirahat emosional yang cukup
4.      Menghindari paparan dengan sinar matahari langsung
5.      Nutrisi dan diet yang tepat
Sedangkan pentalaksanaan dengan obat terdiri dari beberapa macam obat. Obat pada Lupus sebaiknya diusahakan diberikan dengan dosis serendah mungkin, dan dalam jangka waktu sependek mungkin. Namun seperti bahwa tidak ada seorangpun yang sama persis di dunia ini, demikian pula bahwa pengobatan Lupus tidak ada yang persis sama. Ada odapus yang tidak lagi memerlukan minum obat, ada yang minum obat tapi dengan dosis rendah, namun ada juga yang harus minum beberapa obat dalam jangka waktu yang lama.
Obat yang paling sering digunakan adalah Obat Anti Inflamasi Non Steroid (GAINS), obat anti malaria, golongan steroid dan obat penekan sistem imun kita (immunosupressant). Obat-obat ini adalah obat dengan efek samping yang cukup besar, sehingga harus diberikan oleh dokter. Jika anda mendapat obat-obatan ini, dianjurkan untuk membicarakan dengan dokter, untung ruginya pemakaian obat-obatan ini. Pastikan anda tahu efek sampingnya, dan tahu bagaimana penanggulangan awalnya.

*hub@hub@ ...Omen... ^_^

Rabu, 18 Mei 2011

Coba Jadi Penulis 1

Ketika aku bersaksi dengan temanku lupus yang nakal
‘Siti Ngatminah’
           Awal mula gejala yang saya rasakan adalah lemas, badan kurus, hitam, tidak nafsu makan, cuek pokoknya perubahan 75 % dari keadaan sehat dan normal. Sempat terfikir dalam benak saya, apakah karena dulu pernah melakukan operasi kandungan tepatnya pada 31 Januari 2005 dikarenakan indung telur sebelah kiri saya mengalami kerusakan. Setelah pasca operasi tersebut, barulah saya merasakan jika adanya perubahan dalam kondisi tubuh saya yang tidak sebagaimana mestinya, dan perubahan itu sangat terasa sekali.
Dulu saya ini adalah seorang wanita yang pekerja keras, tidak pernah mengenal lelah dalam menjalankan semua kegiatan saya, akan tetapi semua itu telah berubah pasca operasi itu saya lewati. Sekarang saya merasa rasa capek itu lebih sering datang menyerang saya, selain itu perubahan berat badan yang semakin mengalami banyak penurunan dan membuat badan saya semakin terlihat sangat kurus.
Saya bekerja diinstansi pemerintah, dan saya mempunyai 2 orang anak kebetulan mereka perempuan semua. Saya sangat bersyukur kepada Alloh SWT. karena selama sakit, pendampingan oleh orang-orang yang mencintai saya, seperti halnya suami dan anak-anak saya selalu ada setiap saat. Selama saya terpuruk akan sakit  yang belum jelas, yang tengah saya derita pada saat itu. Mereka merawat sepenuh hati serta yang tidak pernah terlewatkan yaitu motivasi yang mereka berikan kepada saya, agar tetap semangat untuk sembuh dari ketidak kejalasan kondisi saya pada saat itu.
Disisi lain pekerjaan saya yang selalu menuntut saya untuk selalu berinteraksi dengan orang banyak, berhubungan dengan masalah rupiah, serta tak jarang juga lepas dari komputer, serta alat pendukung pekerjaan saya lainnya. Dengan berjalannya waktu semua itu menjadi sulit untuk saya kerjakan, dikarenakan bertambah menurunnya kondisi kestabilan tubuh saya pada masa itu.

Depresi
Pada suatu saat yang sama sekali tidak saya inginkan, terjadi perubahan yang aneh pada tubuh saya. Wajah dan Kedua sahabat pena saya yaitu kedua tangan saya mengalami perubahan warna, yang biasanya kecoklatan sawo matang kini berubah warna menjadi hitam dan mengeras, seperti seonggok kayu. Hal berbedapun saya alami kembali, pada saat selesai mencuci dengan seketika jari jemari tangan membengkak dan berwarna kebiruan. Hingga pada akhirnya berkat saran dari pihak keluarga akhirnya sayapun pergi ke dokter keluarga membawa Asuransi Kesehatan (ASKES) ditangan. Sesampainya ditempat tujuan saya menemui dokter keluarga dan saya mendapatkan rujukan dari beliau untuk pergi ke sebuah Rumah Sakit Umum (RSU) dengan tujuan kepoli penyakit dalam pada tanggal 25 Juli 2007 dan setelah pemeriksaan berlangsung akhirnya, saya dinyatakan dengan diagnosa dokter saya mengidap Rhematik, dan kemudian beberapa obatpun diberikan kepada saya yaitu, Corolo, Hytrin, Graham, Aspilet. Demi lebih meyakinkan penyakit saya saat itu, akhirnya sayapun di anjurkan untuk melakukan pemeriksaan di Laboratorium, dan hasilnya cukup membuat jantung saya berdebar. Hasil tes laboratorium menyatakan bahwa Kolesterol total dalam tubuh saya yaitu 215, HDL 45, LDL 164, Trigliserida 185, SGOT 31, SGPT 27, Lekosit 6.500, Trombosit 346.000. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, akhirnya demi lebih menyakinkan saya untuk akan penyakit yang saya derita itu, sayapun akhirnya melakukan pemeriksaan selanjutnya.  Tepat pada tanggal 13 Agustus 2007, saya melakuan sebuah meperiksaan lanjutan dengan ANA Test untuk lebih menyakinkan kembali mengenai penyakit yang saya derita saat itu. Tanpa diduga hasil dari ANA Test tersebut cukup membuat saya depresi, karena menunjukkan hasil bahwa (ANTI-SS-A/SS-B) dan dinyatakan positif saya menderita penyakit LUPUS.
Apa sebenernya penyakit saya itu
Setelah beberapa minggu, saya hidup bersama suatu penyakit yang tak bernama, hal ini mengkhawatirkan saya karena saya menemukan bahwa saya mulai sulit menemukan cara perawatan jika saya tidak tahu sifat penyakit saya di luar gejala-gejala yang tampak. Di pihak lain saya mengatakan pada diri saya bahwa ada suatu keuntungan dari ketidak tahuan itu, sepanjang penyakit itu tidak punya nama, saya tidak takut untuk percaya bahwa tak ada obat untuk menyembuhkannya. Tanpa label, penyakit saya tidak punya kekuatan besar terhadap saya. begitulah saya seolah-olah memberi semangat pada diri saya sendiri saat itu.
Setelah saya menjadi begitu sakit, dan saya mengetahui jika saya menderita lupus. Setelah akhirnya mendengar satu nama dipakai untuk nama penyakit yang saya derita, rasanya sedikit lega dalam benak saya bercambur syok. Saya lega dalam hal bahwa saya akhirnya punya satu diagnosis untuk disampaikan kepada orang-orang yang tidak sabar terhadap sebab penyakit yang tampaknya belum punya dasar  dan tanpa label. Dan, saya syok karena diberi tahu oleh dokter bahwa, sementara saya hanya bisa lebih sehat dengan gejala-gejala lupus saya yang bisa berkurang dan itu berarti saya tak akan pernah benar-benar sembuh.
Mencoba Altenatif Lain
Saya bertanya-tanya di mana orang-orang yang sependeritaan itu. Siapa orang lain di dunia yang mengidap lupus?, akhirnya saya pergi ke dokter ahli Rhematologi di daerah Kawi Malang. Dengan kondisi badan yang kurus serta kedua tangan menghitam dan mengeras. Sesampainya disana saya bertemu dengan Prof.Dr. Handono dan kemudian saya diberi suntikan dan obat Celcept yang harganya tidaklah murah buat saya dan keluarga. Sembari menunggu perkembangan pasca berobat kurang lebih 1 minggu, 2 minggu, hingga hampir 1 bulan, akhirnya menunjukkan adanya perubahan berkat mencoba pengobatan tersebut dan sayapun merasa jauh sedikit lebih membaik.
Pada tanggal 9 November 2007 saya mencoba kembali ke Rumah sakit Umum (RSU) dengan hal yang sama yaitu membawa Asuransi Kesehatan (ASKES) ditangan. Saya mencoba pemeriksaan laboratorium lagi oleh Dr. Putra dan hasil pemeriksaan menunjukkan hasilnya bahwa saya negatif dan kemudian sayapun diberikan obat lagi yaitu Aspilet dan Calcept. Hampir setiap bulan saya melakukan control kesehatan saya, yang akhirnya pada tanggal 8 Januari 2008 berujung saya harus menjalani Biobsi dengan Dr. Rulli R. di RSU dan hasilnya bisa di bilang kurang representative karena tidak tampak endapan kompleks imun pada tubuh saya.
Mengetahui hal yang terjadi pada saya saat itu, tidak membuat saya patah arang terutama keluarga saya yang selalu bekerja keras dalam memberikan semangat serta berusaha mencarikan pengoobatan terbaik demi kesembuhan diri saya dari lupus tersebut. Saat lupus setia menemani saya, kegiatan rutin yang kerap saya kerjakan yaitu saya mulai rajin melakukan kontrol dan serta mengikuti beberapa terapi pengoobatan. Semua itu saya lakukan demi kesembuhan diri saya dan terlepas dari sahabatku lupus yang nakal. Untuk melakukan itu semua, saya mulai memberanikan diri untuk meminta ijin kepada atasan dimana tempat saya bekerja saat itu.
Saya sadar bahwa safari penyembuhan saya dari penyakit lupus ini akan sulit. Saya juga tahu bahwa safari ini butuh keberanian dan kesabaran dalam menjalaninya. Saya tahu bahwa saya tidak akan sendirian dalam pencarian penyembuhan ini. Akhirnya pada tanggal 26 Juli 2008, saya mulai menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan seminar-seminar kesehatan yang berhubungan dengan lupus. Acara seminar pertama yang saya ikuti diselenggarakan oleh PARAHITA yang berlangsung di Lab.Kawi 31 Malang bersama Orang Dengan Lupus ‘ODAPUS’ serta peserta seminar lainnya yang tidak menderita lupus. Setelah itu, saya memperoleh lebih banyak kemampuan dalam mennyelidiki penyakit saya, berbicara dengan para dokter, dan mereka  menangani perawatan-perawatan saya. Hal itu membuat saya bisa mengatasi secara lebih baik penyakit saya, dan berfikir lebih positif. Melalui seminar kesehatan yang saya ikuti membuat saya bertemu ODAPUS lainnya, dan dari situlah saya dan mereka bersama-sama saling memberikan dukungan demi kesembuhan dari penyakit lupus yang nakal ini. Namaun, safari penyembuhan saya tidak berhenti hanya pada saat itu saja, saya masih harus melakukan safari kesehatan dengan selalu melakukan kontrol kesehatan, yang saya lakukan setiap bulan. Selain itu, demi menjaga kondisi saya hingga saya bisa dinyatakan aman dari lupus yang nakal ini, saya juga dianjurkan menjaga pola makan, serta bisa mengatur waktu istirahat saya, itupun saya lakukan demi kesembuhan saya dari lupus sepenuhnya.

*hub@hub@... >_^

Coba Jadi Penulis 2

Lupus Sahabatku yang Nakal
‘Siti Nurmaratus’
Riwayat kesehatan saya begitu panjang, bagai safari kehidupan yang tidak kunjung bertemu ujungnya. Pernah menderita penyakit kuning saat saya duduk dibanku sekolah TK. Gejala penyakit ini kembali kambuh sejak saya masih siswi SMA dan berlanjut hingga saya beranjak dewasa. Saya kerap mengalami sakit perut yang tidak biasa, dan itu sering saya rasakan meskipun tidak mengalami datang bulan. Selain itu rasa pusing yang tidak biasa juga sering menyerang, dan diikuti oleh badan yang mulai melemah. akhirnya saya memberanikan diri dengan memeriksakan kesehatan ke dokter umum pada saat itu, seperti biasanya sang dokter mendiagnosa saya menderita penyakit Mag biasa. Tapi, safari kesehatan saya tidak hanya berhenti disitu saja, akhirnya safaripun berlanjut, dengan saya sering memeriksakan diri ke dokter. Karena, pada saat itu tekanan darah dan HB saya selalu menunjukkan tanda dibawah standar bisa dibilang cukup rendah dan tidak stabil.
Safari kehidupan sayapun berlanjut, ketika ada seorang pria menaruh hati pada saya. rasanya saya tertawa dalam hati, pria ini nekad ingin menikahi saya. Maka, mulai terbukalah tabir tentang penyakit saya yang sebenarnya. Walau saat itu belum ada kejelasan tentang penyakit apa yang saya derita ini.  Anehnya, semakin pria itu tahu siapa diri saya, semakin nekat ia mendekati saya dan semakin serius dalam menjalani hubungan, akhirnyapun kami menikah.
Janin itu Pun Lepas
Beruntung penyakit yang kuderita tak menghambat hubungan suami-istri dan mendapatkan anak. Maka setelah menikah enam bulan, saya berganti konsultasi kepada dokter kandungan dengan harapan bisa segera hamil. Namun, diagnosa dokter kandungan cukup membuat khawatir saya dan suami saat itu, karena kandungan saya dinyatakan dalam kondisi lemah dan sayapun dianjurkan untuk rutin melakukan pemeriksaan kandungan. Safari demi bisa hamil tetap saya lakukan hingga menginjak waktu tujuh bulan dari masa menjalani pemeriksaan rutin tapi masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. Saya mulai sedikit lelah menjalani pemeriksaan rutin itu, akhirnya pemeriksaan saya hentikan berdasarka perijinan dari suami. Hampir putus asa, sempet mendera jiwa karena saya sempat berfikir, apakah karena usia saya menikah memang dirasa sudah cukup terlambat yaitu 36 tahun dan hal itu mempengaruhi kesuburan kandungan saya saat itu. Namun, saya dan suami tidak mudah larut dan menyerah dalam sebuah rasa putus asa, akhirnya safari demi mendapatkan sang buah hati tetap kami lanjutkan. Maka, tepatnya pada bulan April tahun 2000, saya dinyatakan positif hamil. Sungguh bagaikan ketiban bulan saya dan suami menyambut dengan suka cita, namun ternyata ada rencana lain dari Alloh S.W.T. terhadap keluarga kecil yang baru kami bina saat itu, saya mengalami keguguran dan janin dalam kandung saya hanya bisa bertahan selama 10 minggu saja.
Tepatnya pada tahun 2003, saya dinyatakan hamil kembali. Saya bahagia karena akan mendapat keturunan dan sebagai wanita, saya merasa paling sempurna di dunia. Pada kehamilan yang kedua, saya sangat berhati-hati menjaganya, bahkan safari dalam melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin mulai saya lakukan kembali. Dikarenakan keadaan kandungan begitu lemah, hal itu terbukti dengan hasil tekanan darah saya yang selalu berada di bawah 100/70-10 dengan HB menunjukkan angka selalu dibawah 10. Dengan kondisi yang seperti itu, kebahagiaan itupun lenyap saat dokter kandungan mengatakan jika saya keguguran kembali. Saya hanya berhasil mempertahan kandungan hingga berusia 18 minggu saja.
Pada saat kegugugran yang ke dua, tensi darah saya menunjukkan angka yang sangat rendah sekali yaitu 86/66 dan tidak memungkinkan bagi saya melewati proses kuret tanpa pembiusan, guna membersihkan rahim calon jabang bayi yang masih menempel di dalam rahim.
Keluhan yang Tidak Kunjung Membaik
Pasca melakukan kuret, saya merasa jauh lebih baik serta kondisi badan saya jauh lebih sehat, itulah yang saya rasakan. Aktifitas sehari-hari kerap saya lakukan seperti biasanya, baik rutinitas dikantor maupun dirumah. Maklum selain menjadi ibu  rumah tangga, saya juga bekerja dikantor pemerintahan desa yang jaraknya tidak terlalu jauh karena bisa ditempuh dengan jalan kaki dari rumah.
Penderitaan belum juga usai, dan tampak tidak ingin pergi dari kehidupanku. Penyakitku kambuh,  Walau tidak pernah tahu secara jelas penyakit apa yang saya derita ini. Saat itu, saya memang terlampau letih yang teramat sangat karena rutinitas sehari-hari. Pusing yang tidak  biasa kerap saya rasakan serta sakit perut yang sering mendera. Akhirnya saya pergi ke salah satu dokter umum guna memeriksakan keadaan kesehatan yang sering melemah. Sesuai diagnosa dokter saya dinyatakan sakit mag biasa karena makan yang kurang teratur serta pusing karena terlalu kelelahan saja. Semua itu saya anggap hal yang biasa, dengan bantuan obat dari dokter saya bisa tidur dengan nyenyak tanpa keluhan apapun yang mendera. Seakan-akan semua keluhan itu menghilang dan tidak pernah saya rasakan sebelumnya.
Safari penderitaan saya belum berakhir hanya dengan keluhan pada lambung dan pusing saja. Bagaikan mendapatkan goresan sembilu yang tajam, yang mengonyak-ngoyak mulut dan bibir saya saat itu, membuat saya sulit merasakan nikmatnya rasa manis, dan gurih. Sariawan yang tidak kunjung sembuh, dan hal itu saya rasakan selama empat bulan lamanya dan cukup membuat berat badan menurun secara drastis. Mulanya saya anggap hanya sakit sariawan ringan yang akan segera membaik. Tapi, ternyata itu bukan sakit sariawan biasa.
Banyak alternatif serta saran dari teman dan sanak sodara yang saya lakukan guna menyembuhkan sakit sariawan yang saya derita saat itu. Akhirnya, saya pergi ke Puskesmas terdekat dan saya ikuti anjuran dari dokter. Selain itu, safari penyembuhan tetap saya lakukan dengan cara minum obat tradisional, tapi tetap saja itu semua tidak membuat sakit sariawan yang saya derita kunjung membaik dan malah jauh dari kata sembuh.
Apa Sebenernya yang Saya Derita?
Hal ini mengkhawatirkan saya karena saya menemukan bahwa saya mulai sulit menemukan cara perawatan jika saya tidak tahu sifat penyakit saya di luar gejala-gejala yang tampak. Kemudian pada bulan April 2008, Memberanikan diri itu yang saya lakukan. Selain dukungan dari keluarga, akhirnya teman saya yang tidak berhenti memberikan dukungannya mengajak saya untuk memeriksakan kondisi kesehatan ke rumah sakit umum (RSU). Berbekal surat rujukan ke Poli dalam, akhirnya safari pencarian apa penyakit yang saya derita membawa saya bertemu dengan Dokter Putra. Begitu banyak tanda tanya bersemayam dibenak saya saat itu. Dr.Putra menanyakan secara rinci bagaimana riwayat penyakit saya sejak kecil, akhirnya, terbukalah riwayat penyakit yang saya derita.
Pernah mengidap penyakit kuning, mulai dari jadwal datang bulan yang tidak teratur,  nyeri pada lambung yang tidak biasa, mudah terserang pusing dan kondisi tubuh cepat melemah, semua itu saya ceritakan kepada Dr.Putra. Tidak lupa disaat saya diserang penyakit kulit dan sakit gigi yang tak kujung membaik pula, itu juga saya ceritakan kepada Dr.Putra. hingga pada titik akhir, saya menderita sariawan yang cukup lama. Dengan begitu seksama Dr.Putra mendengarkan semua riwayat penderitaan saya dengan penyakit yang belum jelas itu. Safaripun berlanjut dengan sebuah pengantar dari Dr.Putra untuk melakukan tes darah ke laboratorium RSU serta tes ke laboratorium kawi.
Kurang lebih hampir selama 18 tahun saya hidup dengan bayang-bayang penyakit yang tidak pernah jelas. Karena diagnosa dokter umum saat itu, yang selalu berbeda dan hanya menunjukkan diagnosa yang biasa aja, membuat saya tenang dalam menyikapinya walau gejala-gejala itu kerap kambuh. Selama 18 tahun juga saya bertanya-tanya, sebenarnya penyakit apa yang saya derita. Berbekal surat pengantar dari Dr.Putra, akhirnya sayapun pergi ke laboratorium tersebut.
Sungguh sudah jatuh masih tertimpa tangga pula, mungkin itu metafora yang pas buat menggambarkan keadaan saya saat itu. Hasil laboratorium menyatakan bahwa saya positif menderita Lupus.
Depresi Menyerang saya
Syok berat, itulah yang saya rasakan, karena diberi tahu oleh dokter bahwa, sementara saya hanya bisa lebih sehat dengan gejala-gejala lupus saya yang bisa berkurang dan itu berarti saya tak akan pernah benar-benar sembuh. Depresi berat, baik secara fisik maupun psikis sehingga hal itu benar-benar membuat kegiatan rutin saya terganggu. Demikian pula yang terjadi kepada suami saya, depresi sempat menyerang dia juga.
Depresi berat saya rasakan hanya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Penjelasan dari dokter saat itu tentang apa penyakit lupus itu, sedikit banyak membuat saya dan suami lebih baik dalam menyikapinya. Banyak saran-saran kesehatan yang dianjurkan demi mengurangi penderitaan dari sahabatku lupus yang nakal ini dan semua itu saya lakukan dengan sabar dan penuh keberanian. Tidak terlarut dalam keterpurukan yang begitu lama, karena saya dan suami, menyadari bahwa ini semua adalah kehendak dari yang Alloh SWT. Dan kamipun pasrah dan berserah diri kepada-Nya.
Dukungan Pun Berdatangan
Berbagai anjuran demi kesembuhan saya lakukan, hingga pada akhirnya saya dianjurkan untuk melakukan Biobsi, tapi proses itu berjalan kurang baik dan urung dilaksanakan karena dalam proses biobsi menyatakan bahwa posisi ginjal saya tidak berada pada tempatnya sesuai anatomi tubuh yang sebenarnya.  Demi menjalankan proses tersebut, sebelumnya haruslah mendatangkan dokter anatomi terlebih dahulu. Untuk mengatasi hal tersebut dan demi meringkan penderitaan saya dengan lupus yang nakal itu, dokterpun memberi obat ginjal dan menganjurkan saya untuk memperbanyak minum air putih sebagai langkah antisipasi saat itu.
Mungkin karena penderitaan ini telah panjang saya lalui, maka semuanya saya hadapi tanpa beban. Saya tahu semua orang merisaukan kondisi saya saat itu, terutama keluarga dekat saya. Namun, banyak teman-teman yang bersimpati dengan kondisi saya, sehingga saya dan suami akhirnya bisa menerima keadaan terebut dengan tawa.
Tabah, itulah yang saya lakukan. Saya mulai menggerjakan rutinitas saya baik dikantor maupun dirumah sebagaimana biasanya saya lakukan. Tidak berhenti bersafari untuk mencari tahu tentang penyakit lupus yang saya derita, terus saya lakukan dengan penuh kesabaran dan keberanian. Karena hanya dengan cara itulah saya merasa jauh lebih baik karena saya menjadi tahu, harus bagaimana memperlakukan sahabat lupus saya yang nakal itu.
Dukungan berdatangan membuat saya lebih bisa menerima keadaan, karena semua dukungan yang saya terima selalu mengarahkan untuk selalu berfikir positif, bahwa segala macam bentuk penyakit yang diberikan oleh Alloh SWT. Adalah coba’an yang harus kita hadapi dan disikapi dengan ketabahan. Selalu berdoa dan memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, itulah yang saya lakukan.

**hub@hub@ ^_^



Selasa, 17 Mei 2011

Surat Untuk Cintaku...

Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku
Tak terasa dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin BERPACARAN denganmu.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada BIDADARI-ku. Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanmu.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.
Aku yang tidak mengerti diriku…
Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu... aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.
Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA.
Wassalam
 
**hub@hub@ *^_^ 

Aku Termotivasi Karena Cinta

Jatuh cinta dan memiliki seorang pacar memang menyenangkan dan bisa membuat hidup kita lebih indah dan tentunya lebih bersemangat lagi untuk menjalani hari demi hari demi. Tapi tidak semua kisah cinta itu berjalan mulus, selalu ada saja yang menghalangi atau bahkan membuat kisah cinta kita jadi lebih sulit untuk dijalani.
Dan mungkin yang paling sering terjadi adalah ketika orang tua tidak setuju atas hubungan cinta kita? Orang tua kita tidak mau menerima pilihan hati kita dan membenci orang yang jadi pacar kita.
Bila anda pernah mengalami seperti hal seperti ini, dimana hubungan cinta kita tidak mendapat restu dari orang tua, jangan kecil hati dulu dan jangan terburu-buru mengambil langkah yang bisa jadi, justru akan merugikan kehidupan kita.
Ketika orang tua tidak merestui hubungan kita, ada baiknya anda melakukan lagi cek dan rechek atas permasalahan yang sedang dihadapi, dan anda harus siap melihat dan menerima sisi baik maupun sisi buruk dari masalah ini.

 Cek Motivasi Hubungan Cinta ini
Yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui dulu motivasi apa yang menyebabkan kita memilih dia menjadi pacar kita? Apa tujuan dari hubungan yang kita jalin. Apakah tujuan kita memilih dia itu hanya untuk sekedar gila-gilaan, biar lebih dipandang sebagai ce/co gaul, atau mungkin ada motivasi lain yang lebih tinggi, misal karena kita menginginkan dia jadi istri/suami kita? Dengan mengetahui motivasi sebenarnya dari sebuah hubungan, kita bakal lebih mengetahui apakah kita emang  benar-benar cinta sama dia? atau justru cinta yang kita rasakan ini cuma sekedar perasaan kagum sesaat saja? Atau malah yang parah lagi bila kita memilih dia, cuma ingin teman-teman kita memandang kita hebat karena bisa mendapatkan dia, yang notabene ce/co idaman?
Nah, bila kita telah mengetahui apa sebenarnya motivasi dari hubungan cinta kita, dijamin kita bakal lebih mudah untuk menghadapi ketidaksetujuan dari orang tua kita.

 Apakah ini Benar-Benar Cinta?
Sekali lagi, tanya pada diri kita sendiri, apakah yang kita rasakan ini adalah benar-benar cinta? Apakah emang kita benar-benar sayang sama dia? Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan selalu memandang semua hal itu mungkin dan bisa dilakukan. Dengan kekuatan cinta, kita bisa lebih bersemangat, apa yang tadinya terasa tidak mungkin menjadi mungkin.
Tapi ketika tiba-tiba orang tua tidak setuju dengan hubungan kita, maka akan dengan mudahnya kita menyalahkan mereka, dan menganggap mereka tidak mengerti dengan perasaan yang kita alami.

 Apa Motivasi dari ketidaksetujuan Orang Tua
Langkah berikutnya adalah mengetahui apa motivasi dibalik ketidaksetujuan orang tua atas  hubungan cinta kita. Cari tahu latar belakang dari kehidupan orang tua kita dan kemudian kita bandingkan dengan latar belakang dari pacar kita, karena biasanya perbedaan latar belakang seringkali menjadi penyebab utama dari ketidaksetujuan orang tua. Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan orang tua tidak merestui hubungan kita, dan itu semua harus kita cari tahu apa motivasi dari alasan-alasan tersebut.

 Jika Orang Tua Kita Ternyata Salah
Orang tua juga manusia, tidak selamanya mereka selalu benar. Bila ternyata ketidaksetujuan mereka lebih dilatar belakangi karena masalah racis (perbedaan suku, warna kulit dst), kelas sosial, atau bahkan perbedaan pekerjaan (misal dia kurang mapan dibandingkan dengan kita). Bila itu semua yang menjadi alasan, maka sudah selayaknya kita berjuang mempertahankan hubungan cinta kita dan tidak begitu saja menyerah dan setuju dengan ketidaksetujuan orang tua kita.
Orang tua mungkin merasa khawatir bila ternyata hubungan cinta kita justru akan membuat kita sengsara, atau membuat kita dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Dan terkadang orang tua mempergunakan “aturan” atau “tata sosial” zaman dulu, yang terkadang kurang relevan dengan keadaan zaman sekarang.
Bila ternyata semua ini yang menjadi penyebab ketidaksetujuan orang tua kita, maka sudah sewajarnya kita bisa memberikan argumen yang tepat pada mereka untuk mempertahankan hubungan cinta kita. Bagaimanapun ketidaksetujuan yang disebabkan karena masalah rasis, kelas sosial sangat tidak bisa dibenarkan, meskipun itu semua datang dari orang tua kita sendiri.

 Jika Orang Tua Kita Ternyata Benar
Tidak ada yang lebih mengenal kita, selain orang tua kita. Bahkan orang tua lebih tahu dan mengerti pada diri kita dibandingkan kita sendiri. Dan mungkin saja, karena kita sedang dibutakan oleh yang namanya cinta, hingga apa yang dilihat sebagai sisi buruk oleh orang tua kita justru kita tidak bisa menyadarinya. Yang kita lihat hanya sisi baik dan pandangan bahwa cinta itu selalu indah.
Kita harus ingat, orang tua sangat menyayangi kita dan mereka menginginkan supaya kita bisa bahagia dalam hidup ini. Jadi ketika mereka melihat sesuatu yang tidak beres dan merugikan, dalam hubungan cinta kita, tentu saja mereka bakal dengan tegas menolak dan tidak merestui hubungan kita.
Jika orang kita ternyata pernah mendengar bahkan tahu bahwa pacar kita tersebut punya perilaku yang buruk, dan mereka mengkhawatirkan kita bakal dilukai oleh pacar kita, tentu ada baiknya bila kita mencoba mendengarkan mereka, karena mungkin saja mereka ada benarnya.
Jika kita mulai berlaku liar, dan hidup kita mulai kacau, (misal kita mulai mempergunakan obat-obatan terlarang, minuman keras) karena pengaruh pacar kita, orang tua sudah pasti sangat tidak setuju dengan hubungan kita. Dan orang tua juga bakal tidak merestui, bila ternyata selama menjalin hubungan cinta, prestasi kuliah kita mulai menurun, atau kita mulai kehilangan sahabat dan teman kita. Sudah waktunya kita mendengarkan orang tua dan menghentikan hubungan cinta kita. Bagaimanapun, sebuah hubungan cinta yang terlalu banyak mengorbankan dan merugikan kehidupan pribadi kita, sudah merupakan sesuatu yang tidak menyehatkan bagi kelangsungan hidup kita.

 Menemukan Jalan Keluar
Seperti dikatakan di awal tadi, cinta itu indah dan bisa membuat hidup lebih bersemangat dan lebih baik. Bila ternyata cinta yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar membuat hidup kita lebih baik, lebih nyaman, dan pacar kita benar-benar sayang sama kita dan memberikan efek positif pada kehidupan kita, sudah sewajarnya kita mempertahankan hubungan cinta ini, meskipun orang tua tidak setuju.
Tapi ketika hubungan cinta dirasakan mulai “membahayakan” kehidupan pribadi kita, ada baiknya kita berpikir ulang, apakah perlu kita mempertahankan cinta ini? Perlu diingat baik-baik, kita tidak harus kehilangan hidup kita hanya karena kita jatuh cinta dan membina sebuah hubungan. Keluarga, teman dan kuliah atau sekolah kita, masih sangat penting bagi kehidupan kita. Membina sebuah hubungan cinta, tidak berarti bahwa kita mesti kehilangan itu semua. Bila kita mulai merasakan bahwa kita mulai kehilangan hidup kita, sudah waktunya kita berpikir untuk mengakhiri hubungan cinta ini.

Orang tua selalu mengharapkan yang terbaik buat kita, hadapilah ketidaksetujuan orang tua dengan kepala dingin dan sikap yang kooperatif. Boleh jadi mereka tidak suka dengan pacar kita, tapi suatu hari nanti mereka pasti akan bisa menerima hubungan cinta kita, bila kita mampu membuktikan bahwa apa yang kita lakukan bisa  membuat kehidupan kita lebih baik dan lebih indah untuk dijalani.

Selamat Jatuh Cinta! **hub@hub@ ^_^

Cinta Sejati kah ini...

Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberikanku sebuah pengajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan seperti dalam novel-novel romantis, tetapi tetap bagiku ia adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari semua novela tersebut.
Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu di sebuah majlis resepsi pernikahan dan kata ayahku dia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu dia tahu, inilah wanita yang akan dikahwininya. Ia menjadi kenyataan dan mereka telah bernikah selama 40 tahun dengan tiga orang anak. Aku anak sulung, telah berkahwin dan memberikan mereka dua orang cucu. Ibu bapaku hidup bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi ibu bapa yang sangat baik bagi kami, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan.
Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Beberapa jiran kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan pasaraya yang menjual alat-alat keperluan rumah tangga. Mereka mengatakan hari pembukaan adalah waktu terbaik untuk berbelanja barang keperluan kerana barang sangat murah dengan kualiti yang berpatutan.
Tapi ibuku menolaknya kerana ayahku sebentar lagi akan pulang dari kerja. Kata ibuku,”Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian”.
Perkara itu yang selalu ditegaskan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita, aku wajib bersikap baik terhadap suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sihat mahupun sakit. Seorang wanita harus menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu. Menurut mereka, itu hanyalah lafaz janji pernikahan, omongan kosong belaka. Tapi aku tetap mempercayai nasihat ibuku.
Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami sekeluarga mengalami berita duka. Setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Doktor mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di pembaringan.
Ayahku, seorang lelaki yang masih sihat di usia tuanya. Tetapi dia tetap setia merawat ibuku, menyuapinya, bercerita segala hal dan membisikkan kata-kata cinta pada ibu. Ayahku tak pernah meninggalkannya. Selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya. Ayahku pernah mengilatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”Untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan hodoh sekali”.
Ayahku menjawab, “Aku ingin kau tetap merasa cantik”.
Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?”
Aku menggeleng, dan ibuku berkata, “Kerana aku tak pernah meninggalkannya…”
Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan Ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.

**hub@hub@ by Omen ^_^

Senin, 09 Mei 2011

Untuk yang sedang kecewa

Tuhanku Yang Maha Penyayang,

Aku terkhianati.
...
Aku tahu aku harus menerima kemungkinan
datangnya kekecewaan,
tapi aku harus lebih meyakini kepastian
pemenuhan harapan.

Harapan adalah kekuatan
untuk meringankan bebanku,
karena harapan adalah jembatan
yang menghubungkan antara satu doa
ke doaku berikutnya.

Tuhan, aku hanya berharap kepada-Mu.

Keluarkanlah hatiku dari kesedihan ini

Aamiin